Digital nomad adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menghasilkan uang memanfaatkan teknologi informasi atau internet serta tinggal berpindah-pindah (nomaden). Diantara banyaknya destinasi tinggal untuk para digital nomad dari seluruh dunia, dua tempat terfavorit mereka ada di Indonesia, khususnya di Bali yaitu Canggu dan Ubud.

Jika Anda mencari informasi tentang tempat favorit para digital nomad, nama Canggu dan/atau Ubud selalu muncul sebagai salah satu pilihan utama mereka. Fasilitas yang sudah semakin lengkap, koneksi internet/wifi yang membaik, biaya hidup yang terjangkau dan pilihan aktivitas serta makanan yang beragam menjadi beberapa alasan mereka memilih Bali.

working from Cafe in Bali

Banyaknya coworking space dengan fasilitas dan komunitas yang luar biasa juga menjadi salah satu alasan mengapa Bali menjadi hot spot untuk turis yang berlibur sambil bekerja ini. Tapi, tahukah Anda bahwa coworking space tidak pernah sembarangan dalam membangun infrastruktur jaringan mereka? Banyak diantaranya menggunakan jasa konsultan seperti CometSoul untuk menyediakan Wifi yang tidak hanya cepat, tapi juga stabil dan aman untuk para digital nomad ini.

Tapi, umumnya para digital nomad ini tidak akan tinggal lama dan sesegera mungkin pindah ke negara lain saat travel visa mereka habis lalu mungkin kembali lagi dalam beberapa bulan.

Apa itu Travel Visa?

Bagi para wisatawan mancanegara, passport merupakan KTP mereka selama berkunjung ke suatu negara sementara Visa merupakan tiket masuk mereka ke negara tersebut. Indonesia sebenarnya sudah membebaskan Visa turis untuk wisatawan dari 160 negara termasuk Australia yang berlaku selama 30 hari.

Jadi, jika seorang warga negara asing dari suatu negara ingin masuk ke Indonesia untuk berwisata selama kurang dari 30 hari, mereka tidak harus membayar Visa. Keuntungan inilah yang kerap digunakan oleh para digital nomad, walau mereka mungkin bekerja selama di Bali tapi mereka tetaplah datang sebagai wisatawan.

Jenis-Jenis Visa

be a digital nomad by using travel visa in Bali

Selain Travel Visa, ada beberapa jenis Visa lainnya yang umumnya digunakan oleh para wisatawan asing saat berkunjung.

Visa on Arrival (VoA)

VoA adalah jenis Visa yang dibayarkan saat tiba di Bali/bandara. Biaya yang dikenakan adalah $35 per orang untuk masa tinggal selama 30 hari. Kenapa ada orang yang memilih VoA jika bisa masuk gratis? Karena Free Entry Visa hanya berlaku 30 hari dan tidak bisa diperpanjang sementara VoA bisa diperpanjang satu kali selama 30 hari membuat total masa tinggal jadi 60 hari.

Social Visa (B-211)

Social Visa adalah Visa yang harus diurus di konsulat atau kedutaan Indonesia di negara asal wisatawan. Masa tinggal dari jenis Visa ini adalah selama 60 hari dan bisa diperpanjang sebanyak 3 kali, dimana setiap perpanjangan menambah masa tinggal selama 30 hari. Total masa tinggal pun menjadi 150 hari.

Multiple Entry Visa

Multiple Entry Visa seperti namanya adalah Visa yang memungkinkan seorang warga negara asing untuk masuk berkali-kali ke Indonesia tanpa membayar lagi. Multiple Entry Visa berlaku selama satu tahun dimana setiap kali masa tinggal adalah 60 hari. Visa jenis ini juga harus diurus di konsulat atau kedutaan besar di negara asal.

Beberapa warga negara asing memanfaatkan Visa jenis ini untuk tinggal dalam waktu lama di Indonesia. Ketika masa tinggalnya sudah akan habis selama 60 hari, mereka akan terbang ke luar negeri (biasanya Singapura atau Malaysia) selama beberapa hari, lalu kembali lagi ke Indonesia sebagai turis.

Para digital nomad biasanya hanya memanfaatkan Free Entry Visa jika mereka berasal dari negara yang termasuk di dalamnya atau jika mereka benar-benar menyukai tinggal dan bekerja dari Bali, maka mereka akan mengurus Multiple Entry Visa untuk bisa bekerja secara tenang selama berbulan-bulan di Bali.

Bali sebenarnya harus bersaing dengan tempat lain seperti Thailand, Vietnam dan Filipina yang memiliki biaya hidup lebih rendah, Seoul yang punya koneksi internet lebih kencang, hingga negara-negara Eropa yang punya lebih banyak aktivitas bagi para digital nomad.

Tapi, infrastruktur penunjang industri kreatif di Bali berkembang pesat dalam 5 tahun terakhir, fasilitas umumnya semakin tertata dan koneksi internetnya juga sekarang lebih kencang dan merata. Semoga dengan beberapa peningkatan ini, Bali bisa menjadi destinasi utama bagi para turis ini di masa mendatang.