Celah RabbitMQ Bisa Membocorkan OAuth Secret dan Metadata Queue

RabbitMQ adalah message broker yang banyak dipakai oleh aplikasi modern. Tool ini membantu sistem saling mengirim pesan secara cepat dan teratur. Namun, dua celah keamanan baru ditemukan pada RabbitMQ. Celah ini dapat membocorkan data penting dan membuka risiko pada sistem messaging perusahaan. Dua celah tersebut adalah CVE-2026-57219 dan CVE-2026-57221. Keduanya berkaitan dengan access control. Masalah ini penting karena RabbitMQ sering dipakai di sistem bisnis, SaaS, microservices, dan layanan internal perusahaan.

Apa Itu RabbitMQ?

RabbitMQ adalah layanan message broker. Fungsinya adalah mengatur pengiriman pesan antar aplikasi.

Sebagai contoh, aplikasi e-commerce bisa memakai RabbitMQ untuk memproses pesanan. Sistem pembayaran, notifikasi, dan gudang dapat saling bertukar pesan melalui queue.

Dengan RabbitMQ, proses kerja antar sistem menjadi lebih rapi. Namun, jika aksesnya tidak aman, data internal bisa ikut terbuka.

Karena itu, keamanan RabbitMQ perlu dijaga dengan serius.

Mengapa Celah Ini Berbahaya?

Dua celah ini berbahaya karena menyentuh bagian access control. Artinya, masalah terjadi pada cara RabbitMQ membatasi akses pengguna.

Jika access control gagal, pengguna yang tidak berhak bisa melihat data yang seharusnya terbatas. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penyerang bisa mendapatkan OAuth client secret.

OAuth client secret adalah kredensial penting. Jika bocor, penyerang bisa memakainya untuk mendapatkan token dan mengambil alih broker.

Selain itu, celah lain dapat membuka metadata queue. Metadata ini mungkin tidak berisi isi pesan, tetapi tetap bisa membocorkan informasi bisnis.

CVE-2026-57219: OAuth Secret Bisa Bocor

CVE-2026-57219 adalah celah dengan skor CVSS 8.7. Celah ini berkaitan dengan endpoint lama pada HTTP API RabbitMQ.

Endpoint tersebut adalah GET /api/auth. Pada konfigurasi tertentu, endpoint ini dapat membocorkan OAuth client secret.

Risikonya besar. Jika penyerang mendapatkan secret tersebut, mereka bisa menukarnya menjadi token admin.

Setelah itu, penyerang berpotensi menguasai pesan, queue, user, dan pengaturan broker.

Namun, tidak semua instalasi RabbitMQ terdampak. Risiko ini berlaku pada instalasi yang memakai OAuth 2 dengan konfigurasi management.oauth_client_secret.

CVE-2026-57221: Metadata Queue Bisa Terbuka

CVE-2026-57221 memiliki skor CVSS 5.3. Celah ini terjadi karena authorization check yang tidak lengkap.

Masalahnya ada pada operasi passive queue declaration dan passive exchange declaration.

Pengguna yang sudah login dapat melihat nama queue dan exchange di virtual host tertentu. Bahkan, hal ini bisa terjadi meskipun izin pengguna sangat terbatas.

Selain itu, pengguna dapat melihat jumlah pesan dan jumlah consumer pada queue. Informasi ini bisa terlihat sederhana, tetapi tetap sensitif.

Misalnya, queue bernama orders, payments, atau transactions dapat menunjukkan aktivitas bisnis. Jumlah pesan juga bisa memberi gambaran tentang volume transaksi dan backlog.

Dampak pada Lingkungan Multi-Tenant

Celah ini sangat penting untuk lingkungan multi-tenant. Dalam sistem seperti ini, beberapa aplikasi atau pelanggan bisa berbagi satu infrastruktur RabbitMQ.

Jika batas antar tenant lemah, satu tenant bisa melihat metadata milik tenant lain. Ini dapat membocorkan struktur internal sistem.

Selain itu, attacker dapat memakai informasi tersebut untuk reconnaissance. Mereka bisa memetakan queue, exchange, dan alur kerja aplikasi.

Dengan kata lain, metadata juga bisa menjadi bahan untuk serangan lanjutan.

Versi RabbitMQ yang Terdampak

Celah ini berdampak pada release RabbitMQ mulai dari versi 3.13.0 dan versi setelahnya.

Perbaikan sudah tersedia pada RabbitMQ 4.3.0, 4.2.6, 4.1.11, 4.0.20, dan 3.13.15.

Karena itu, organisasi yang memakai RabbitMQ perlu segera mengecek versi yang berjalan.

Jika masih memakai versi terdampak, update harus menjadi prioritas. Terutama jika management interface dapat diakses dari jaringan yang tidak dipercaya.

Apakah Sudah Dieksploitasi?

Menurut laporan, belum ada bukti eksploitasi aktif sebelum celah ini dipublikasikan.

Namun, risiko tetap perlu dianggap serius. Setelah detail celah tersedia, penyerang dapat mencoba mencari sistem yang belum diperbarui.

Selain itu, RabbitMQ sering berada di tengah alur data penting. Jadi, kebocoran akses atau metadata bisa berdampak besar pada operasi bisnis.

Langkah Mitigasi yang Disarankan

Langkah utama adalah update RabbitMQ ke versi yang sudah diperbaiki. Ini adalah cara paling aman untuk menutup celah.

Setelah itu, rotasi OAuth client secret jika management interface pernah terbuka ke internet atau jaringan tidak terpercaya.

Selain itu, batasi akses ke port 15672. Port ini biasa digunakan untuk RabbitMQ Management UI.

Gunakan firewall, VPN, atau allowlist IP. Jangan biarkan management interface terbuka untuk publik.

Untuk instalasi yang belum bisa langsung di-update, blokir akses ke endpoint rentan. Selain itu, pisahkan tenant dengan virtual host yang berbeda.

Tips Tambahan untuk Tim IT

Tim IT perlu membuat daftar semua server RabbitMQ. Setelah itu, cek versi, plugin aktif, dan konfigurasi OAuth.

Selanjutnya, periksa apakah rabbitmq_management plugin aktif. Jika tidak dibutuhkan, lebih baik nonaktifkan.

Selain itu, audit user dan permission pada setiap virtual host. Pastikan setiap aplikasi hanya punya akses sesuai kebutuhan.

Log akses juga perlu diperiksa. Cari request mencurigakan ke endpoint management API atau aktivitas login yang tidak biasa.

Kesimpulan

Dua celah RabbitMQ ini menunjukkan bahwa access control sangat penting dalam sistem messaging.

CVE-2026-57219 dapat membocorkan OAuth client secret pada konfigurasi tertentu. Sementara itu, CVE-2026-57221 dapat membuka metadata queue kepada pengguna yang tidak seharusnya melihatnya.

Karena itu, organisasi perlu segera update RabbitMQ. Selain patching, batasi akses management UI, rotasi secret, dan audit permission.

Pada akhirnya, keamanan RabbitMQ bukan hanya soal menjaga isi pesan. Metadata, kredensial, dan konfigurasi akses juga harus dilindungi.

Source: https://thehackernews.com/2026/07/rabbitmq-flaws-could-leak-oauth-secrets.html